Prolog sungkeman untuk acara perpisahan



Sungkeman adalah salah satu tradisi upacara adat, yang mana pada segmen tertentu salah satu orang memperagakan sungkem yang menggambarkan permintaan maaf kepada seseorang yang lebih tua, misal seorang anak kepada orang tuanya atau serangan murid kepada gurunya. Dalam upacara adat sungkeman menggunakan prolog sebagai narasinya, pemeran hanya memperagalan adapun narasinya dibacakan oleh orang lain, dengan diiringi instrumental yang mendukung maka acara Sungkeman menjadi terasa khidmat.

Berikut ini saya memberikan contoh narasi untuk acara sungkeman, adapun narasinya dibagi menjadi dua bagian, misalnya saya bagi menjadi prolog untuk siswa dan prolog untul guru.

PROLOG MURID

Guru... 
Hari ini adalah hari terakhir aku bisa bersama sama denganmu, 
Hari ini adalah hari terakhir aku bisa merasakan betapa tenangnya aku berada dalam naunganmu, 
Hari ini adalah terakhir aku bisa merasakan betapa besarnya kasih sayangmu,

Guru...
Jasamu memanglah sangat besar bagiku, 
Tetapi tak sebesar rasa takutku, 
Takut jikalau aku tak bisa lagi bertemu denganmu guru, 
Takut kalau aku tak bisa lagi rasakan betapa berharganya nasihatmu, 

Guru... 
Kini waktuku telah sampai, 
Waktu dimana aku harus meninggalkan semuanya, 
Waktu dimana aku harus mencari ilmu diluar sana, 
Waktu dimana aku harus meninggalkanmu. 

Maafkan aku guru.. 
Maaf karena aku telah banyak sia siakan waktuku saat bersamamu, 
Maaf karena aku perah hiraukan nasihatmu, 
Maaf ketika kamu memaksa untuk bersabar saat aku tak menurutimu. 

Guruku.. 
Seandainya waktu bisa kuulang kembali, 
Aku ingin menjadi murid yang selalu tunduk akan nasihatmu, 
Aku ingin memberikan yang terbaik untuk membuatmu bangga guru.. 


Tetapi, 
Aku sadar ini sudah waktunya, 
Do'akan aku guru
Agar aku bisa menjadi orang yang berguna bagi negeri ini, 
Jikalau disini aku belum bisa membuatmu bangga, 
Maka dikemudian hari akan ku panggil engkau 
Engkaulah guruku yang membuatku sukses hingga saat ini 

Terimakasih wahai engkau guruku.

PROLOG UNTUK GURU


Muridku... 
Jangan jadikan perpisahan sebagai akhir dari segalanya, 
Jangan jadikan perpisahan sebagai akhir pertemuan engkau denganku, 
Tetapi jadikanlah perpisahan sebagai cara untuk bertemu kembali, 


Wahai muridku.. 
Teruslah berjuang, buanglah rasa takutmu, 
Biarlah semua guru guru disini melanjutkan merjuangannya, 
Berjuang menciptakan anak anak yang cinta akan ilmu, 
Seperti halnya engkau yang sebentar lagi pergi meninggalkan kami, 
Pergi untuk mencari ilmu yang lebih tinggi lagi. 

Muridku... 
Tanpa kamu pinta, 
Bahkan sebelum kau memintanya, 
Kami dengan ikhlas sudah memaafkannya, 
Tiada sebutir pasirpun kusimpan benci, 
Rasa sayang dan kasih ini terlalu besar untukmu wahai muridku.

Muridku, 
Tanpa kau sadari, engkau telah membuat kami berlinang air mata, 
Berlinang air mata karena teramat sangat bangga terhadapmu, 
Bangga akan prestasimu yang luar biasa, 
Hanyalah do'a yang mampu kami berikan,
Semoga kelak kau bisa meneruskan perjuangan kami, 
Agar kami tenang suatu saat kamu meninggalkan dunia ini, 
Ada engkau yang akan menggantikan kami, 
Menciptakan generasi yang haus akan ilmu.

Selamat berjuang wahai engkau muridku.

Itulah salah satu contoh narasi untuk sungkeman di acara perpisahan.

Tips & Trik
Cobalah membaca naskah dengan nada puisi, dengan penjiwaan dan penghayata. 
Gunakan backsound instrumental sedih sebagai pendukungnya, karena kekuatan musik mampu mengubah suasana. 

Saya agus salim
Semoga artikelnya bermanfaat, dan jika kalian suka artikelnya silahkan bagikan ke social media kalian
Terimakasih 

Agus Salim

Tulisan Menarik Lainnya:

Related Posts